Bermula dari pertemuan yang tanpa sengaja membawa kita bisa sejauh ini, dan membuat kita melewati batas pertemanan.
Ya, sejak saat itu kita bukan lagi teman, namun dua manusia yang ingin saling mencari kepuasan satu sama lain.
Mungkin Tuhan sudah memberikan tanda sejak awal kita berteman, namun entah aku yang buta atau tidak bisa mengartikannya.
Chapter 1
Malam itu menjadi kali pertama kita bertemu, di mana semua orang berkumpul di tempat yang sama dan saling memperkenalkan dirinya masing-masing, termasuk dirimu.
Tidak ada yang aneh pada malam itu dan bahkan di hari setelahnya. Aku masih tetap menyukai seseorang dari masa laluku dan masih mengharapkannya.
Hingga suatu hari kita bersama, hanya aku dan kamu tanpa orang lain. Saling bercerita kehidupan kita sebelumnya, hingga malam datang dan ada sebuah peristiwa yang membuat aku merasa aku tertarik dengan mu.
Sejak saat itu, aku banyak bertanya kepada teman-teman ku tentang apa yang aku rasakan saat itu. Salah satu dari mereka hanya mengatakan,
“Itu hal biasa, tidak usah terlalu dipikirkan,” ucap temanku saat itu.
Namun, aku masih saja memikirkan perasaan itu. Hingga aku tahu, ternyata dirimu sudah memiliki pasangan.
Entah kapan kalian memulainya, yang jelas aku ketahui kamu tidak memiliki pasangan saat kita saling bercerita waktu itu.
Meski begitu, aku tidak terlalu ambil pusing, toh waktu itu kita hanya teman biasa seperti yang lainnya.
Anehnya, kamu berlagak seperti tidak memiliki pasangan saat bersamaku. Dari situ seharusnya aku sudah tahu bahwa kamu hanya akan membuat luka.
Bodohnya, aku bersembunyi dibalik kata teman yang menghalalkan semua perlakuanmu karena kita teman.
Banyak kenangan yang kita lewati saat itu, dan aku benar-benar sadar bahwa yang kita lakukan salah. Namun, kita tetap berlindung dibalik kata teman dan seolah-olah kita tidak melakukan dosa.
Bahkan, mungkin aku lebih mengenal dirimu daripada pasanganmu saat itu. Tidak cukup sampai disitu, aku merasa aku pasti bisa memilikimu jika dari awal aku memberikan tanda bahwa kita bukan hanya sekedar teman.
Terdengar jahat, namun itu yang aku rasakan saat itu.
Komentar
Posting Komentar